Mengapa Penumpukan Truk Di Pelabuhan Merak Terus Terjadi ?

Sampai hari ini permasalahan klasik “penumpukan antrian truk” di pelabuhan penyeberangan dari Merak (P. Jawa) ke pelabuhan Bakauheni (P. Sumatera) terus terjadi.  Panjang antrian mengular hingga berpuluh kilometer, berhari hari dan terjadi sepanjang tahun.

Pemerintah daerah, pemerintah pusat dan kementrian terkait seolah kehilangan akal untuk menyelesaikannya. Hal yang dipandang aneh adalah bahwa  pemerintah pusat terkesan mendiamkan, walaupun itu terjadi tidak jauh dari ibukota negara sebagai pusat kekuasaan. Benarkah dalam hal ini cerminan bahwa pemerintah  kehilangan akal dalam menuntaskan kasus ini ?

Dimanakah pemimpin kita yang kita pilih dengan biaya mahal ? Dimanakah wakil wakil kita di DPR saat ini ?

Jika terjadi terus menerus dibiarkan, maka persoalan logistik dan distribusi barang yang dibutuhkan masyarakat adalah taruhannya. Langsung atuapun  tidak, penumpukan ini akan mengakibatkan biaya transportasi naik, biaya kebutuhan akan ikut naik, dan memicu inflasi.

Persoalan yang mungkin bisa kami inventarisasi sebagai perusahaan jasa transportasi adalah :

  1. Pengaturan jadwal yang tidak tertib, praktik pungli kepada sopir marak sebagai akibat dampak langsung antrian ini. Praktik yang terjadi di lapangan adalah, bagi sopir yang mau membayar lebih (suap) kepada aparat yang berwenang akan mendapat prioritas untuk berangkat terlebih dahulu. Sedangkan yang tidak mau membayar pungli, akan menunggu berhari hari untuk menunggu antrian.
  2. Manajemen pengelolaan pelabuhan yang lemah, tidak efisien, dan amburadul. Ketidak professionalan ini berakibat pada lemahnya sistim pengaturan antrian.
  3. Ketiga, keterbatasan sarana utama pendukung pelabuhan yang semakin tidak memadai, antara lain dermaga.
  4. Keempat, belum sesuainya kapasitas kapal di pelabuhan.

Ada kesan bahwa saat ini pemerintah sengaja melakukan pembiaran hal ini hingga dibangunnya jembatan selat sunda (JSS). Jika benar, alangkah naifnya pemerintah dalam mengelola sistem transportasi di negeri ini.